MENYELAMATKAN HARIMAU TERLUKA

D OKTER Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Erni Suyanti Musabine, tak bisa melupakan betapa susahnya mengevakuasi Elsa, harimau yang hewan di Balai terjerat pemburu liar pada awal April 2014. Saat ditemukan, kondisi Elsa sangat menyedihkan. Kakinya sudah busuk. Bersama empat rekannya, Erni Suyanti kemudian membawa harimau itu ke kantornya. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, yang akrab disapa Yanti itu segera melakukan operasi amputasi untuk menolong Elsa.

Setelah operasi, persoalan berikutnya muncul. ”Tidak ada fasilitas memadai unharimau yang sempat memangsa penduduk di perkebunan karet dan sawit di Kabupaten Seluma, Bengkulu. Setelah Giring dirawat, Yanti mengantarnya dengan perahu menyeberangi Sungai Seblat selebar 30 meter menuju Taman Wisata Alam Seblat, Bengkulu, rumah baru harimau itu.

Giring memang sudah dibius, tapi tidak dikurung. Yanti memeluk kepala Giring selama penyeberangan mendebarkan itu. ”Tidak ada rasa takut, saya yakin bisa melakukannya,” katanya.

Profil Monica Carolina

M E M E N A N G I kontes main adalah awal kisah sukses Monica Carolina. Pada 2008, ia menjadi juara kedua di game salah satu cabang World Cyber Games, Call of Duty 4—game perang tipe firstperson shooter. ”Aku satu-satunya peserta perempuan,” kata pemilik nama alias Nixia ini, Sabtu dua pekan lalu. Tahun-tahun berikutnya, Nixia bolakbalik nangkring di posisi pertama atau kedua dalam setiap kompetisi yang diikuti. Padahal semula ia cuma iseng main game seperti kebanyakan remaja seumurannya. Warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini mengaku tidak pernah meminta duit kepada orang tua untuk mendukung hobinya. ”Saya dari keluarga pas-pasan.” Padahal, untuk memiliki satu set peralatan game (gaming gear) yang bagus, perempuan 24 tahun ini perlu puluhan juta rupiah. Nixia mencari akal. Ia membikin grup musik.

Kebetulan ia jago bermain gitar. ”Uang hasil manggung dan menang turnamen saya tabung untuk membeli ini-itu, termasuk peralatan game,” ujarnya. Nixia rutin menulis review tentang gaming gear yang baru dibeli di forum-forum media sosial. Bakat menulis membuatnya sempat menjadi penulis lepas majalah Chip. Ia lantas membuat situs pribadi bernama nixiagamer. Sponsor berdatangan dari produsen gaming gear, seperti MSI, NVidia, dan Corsair. Para sponsor itulah yang tiap bulan mengirimkan pundi-pundi ke akun milik Nixia hingga ratusan juta rupiah. Nixia sadar, dunia gamer masih dicap negatif oleh orang tua. ”Kesannya malas belajar dan menghabiskan uang,” katanya. Nixia yakin main game akan bermanfaat jika diarahkan dengan baik.

D I A J E N G L E S T A R I TUMBUH BERSAMA PARA DESAINER

http://109.199.119.180/ D IAJENG pat pelajaran berhar sewaktu belajar ilmu poli tik di Universitas Indo sia. Perempuan 30 tahun ini memahami, ke an bangsa tidak me Lestari menda kune lu at ga- – – — lu ditentukan oleh stabilitas politik, tapi juga dipengaruhi oleh kesejahteraan rakyatnya. Filosofi ini menuntun Diajeng menapaki karier sebagai pebisnis. Dia memilih bisnis e-commerce busana perempuan muslim karena melihat sektor ini belum digarap serius, padahal pasarnya sangat menjanjikan. Diajeng lantas mendirikan HijUp, situs web penjualan busana muslim, pada 2011. D H Y T A C A T U R A N I MELAWAN SAMPAI KE DUNIA MAYA S EMANGAT ada dalam darah Dhyta Ca tika duduk di bang seko dia mengirimkan surat dukung turani sejak belia. Ke lah menengah atas, an kepada maha aktivis sudah ku– siswa Universitas Gadjah Mada yang kerap berunjuk rasa menentang Presiden Soeharto.

Ia terlibat pergerakan mahasiswa saat memasuki Jurusan Sosiologi UGM pada 1994. Konsistensi perlawanan disuarakan perempuan 41 tahun itu di Kota Gudeg. Dari mengikuti kelompok diskusi Tegak Lima, bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik, hingga berdemonstrasi menumbangkan rezim Soeharto pada 1998. Berbagai represi dan kekerasan fisik aparat negara dirasakannya. Peristiwa yang pa- “Saya sering kesulitan mencari busana muslim yang trendi di pusat perbelanjaan,” ujarnya saat ditanyai alasannya mendirikan HijUp. HijUp kini menaungi sekitar 200 desainer dan memiliki pelanggan di 100 negara. Dengan pertumbuhan omzet lima kali lipat per tahun, Diajeng tidak tumbuh sendiri. Bisnis para desainer mitranya ikut mekar bersama HijUp.

Banyak desainer yang sebelumnya hanya mempunyai satu gerai kini sudah memiliki beberapa gerai. Diajeng menerapkan standar kualitas tinggi bagi karya-karya yang hendak ditampilkan di situsnya. Produk desainer harus melewati proses seleksi ketat. “Kualitas bahan, kerapian jahitan, kreativitas, dan kebaruan model menjadi penilaian utama,” dia menjelaskan. Mimpi Diajeng: Indonesia bisa menjadi pemain utama bisnis busana dunia, bersanding dengan Italia atau Prancis. Langkah menuju pentas dunia mulai terbuka ketika Februari lalu, atas undangan British Council, HijUp memamerkan produknya di London Fashion Week.