Profil Monica Carolina

M E M E N A N G I kontes main adalah awal kisah sukses Monica Carolina. Pada 2008, ia menjadi juara kedua di game salah satu cabang World Cyber Games, Call of Duty 4—game perang tipe firstperson shooter. ”Aku satu-satunya peserta perempuan,” kata pemilik nama alias Nixia ini, Sabtu dua pekan lalu. Tahun-tahun berikutnya, Nixia bolakbalik nangkring di posisi pertama atau kedua dalam setiap kompetisi yang diikuti. Padahal semula ia cuma iseng main game seperti kebanyakan remaja seumurannya. Warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini mengaku tidak pernah meminta duit kepada orang tua untuk mendukung hobinya. ”Saya dari keluarga pas-pasan.” Padahal, untuk memiliki satu set peralatan game (gaming gear) yang bagus, perempuan 24 tahun ini perlu puluhan juta rupiah. Nixia mencari akal. Ia membikin grup musik.

Kebetulan ia jago bermain gitar. ”Uang hasil manggung dan menang turnamen saya tabung untuk membeli ini-itu, termasuk peralatan game,” ujarnya. Nixia rutin menulis review tentang gaming gear yang baru dibeli di forum-forum media sosial. Bakat menulis membuatnya sempat menjadi penulis lepas majalah Chip. Ia lantas membuat situs pribadi bernama nixiagamer. Sponsor berdatangan dari produsen gaming gear, seperti MSI, NVidia, dan Corsair. Para sponsor itulah yang tiap bulan mengirimkan pundi-pundi ke akun milik Nixia hingga ratusan juta rupiah. Nixia sadar, dunia gamer masih dicap negatif oleh orang tua. ”Kesannya malas belajar dan menghabiskan uang,” katanya. Nixia yakin main game akan bermanfaat jika diarahkan dengan baik.